Yuninda Faranika

Yuninda Faranika

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Life like what you want to be remembered

Road to 21, Batam | Indonesia

Translate


Russian Portuguese Japanese KoreanArabic Chinese Simplified



free counters

 

Recent Tweets @
Posts I Like

princehans-kingnothing:

This entire movie was an emotional roller coaster but this is the scene that absolutely shattered my heart.

(via ofhopeandfear)

22 juli, great, fun, sad, complicated day. Ga kbyang d kehidupan stelah kuliah ini dengan sahabat sahabat sayang tercinta. Really love u full guys:-*. Cepat nyusul biar foto wisuda bareng :-D :-)
wish everything will be great today \(^^.)/
but please careful with my heart :))

Seorang perempuan duduk di balik pagar rumahnya. Berlindung dari setiap orang yang berlalu lalang. Mengunci pintu halamannya rapat. Ditutupinya setiap celah pagarnya dengan plastik-plastik gelap. Sehingga tidak ada mata yang bisa mengetahui dalamnya, tidak bisa mengintip isinya.

Perempuan itu sejak beberapa tahun yang lalu duduk setiap pagi hingga sore hari di teras rumahnya. Tetap terlindung dari pagar yang tinggi. Rumput di halaman rumahnya telah tinggi, tidak pernah disiangi. Pohon-pohon berbuah dan buahnya jatuh sebab tidak pernah dipetik.

Bagaimana aku tahu bila perempuan itu duduk di sana setiap hari? Itu rahasia.

Dulu pagar rumah ini tidak terkunci seperti ini. Aku masih bisa melihat apa yang ada di halaman rumahnya. Begitu rapi tertata, begitu memaksa perasaan orang yang lewat di depannya untuk singgah. Dan, tuan rumah yang begitu ramah.

Kabarnya, suatu hari ada seorang pencuri masuk ke dalam rumah ini. Mengambil sesuatu yang paling berharga yang dimiliki rumah ini. Sesuatu yang tidak mungkin bisa dikembalikan, kecuali Tuhan melahirkannya kembali sebagai bayi. Sesuatu yang tidak mungkin dibeli. Kau tahu apakah sesuatu itu? Dari dengar-dengar bisik orang, sesuatu yang hilang itu adalah “kehormatan”. Aku tidak perlu menjelaskan lebih jauh, kan?

Rumah itu kini terlindung dari setiap orang. Tuan rumah tidak lagi menerima tamu, siapapun. Setiap orang yang mengetuk pintu tidak lagi diterima. Sekalipun niatnya baik. 

Meski pada satu sisi, sang tuan rumah berharap ada yang mau berkunjung. Seperti dulu. Beramah tamah di teras rumah. Bermain di halaman yang luas. Tapi harapan itu tidak lagi disertai kepercayaan. Kepercayaan itu telah menguap. Seperti embun-embun pagi yang kalah oleh sinar matahari. 

Setiap hari aku duduk di luar pagar rumah itu, menenteng gitar dan bernyanyi. Duduk dari pagi hingga sore hari. Meski setiap orang yang berlalu lalang mengatakan aku gila, aku tidak peduli. 

Kata mereka, “rumah ini tidak lagi memiliki kehormatan. Untuk apa di datangi?”

Aku hanya tersenyum. Enggan mendebat.

Aku kembali bernyanyi. Berharap tuan rumah terhibur dengan suaraku yang parau. Berharap sang tuan rumah penasaran, siapa yang setiap hari menyanyi di luar pagarnya. Berharap satu hari, gembok pagar itu berkarat dan patah. Atau pagar itu roboh tertimpa pohon. Atau alasan-alasan lain yang membuatku memiliki alasan untuk masuk ke halamannya. Atau, aku berharap sang tuan rumah mengintip dari celah pagarnya karena penasaran padaku.

Aku paham. “Kehormatan” rumah ini telah dicuri. Tapi aku tidak peduli dengan itu. Mengapa setiap orang hanya menilai seperti itu. Bukan salah dia bila kehormatan itu hilang kan? Dia telah menjaganya. Tapi tetap saja di dunia ini banyak pencuri. Daripada sibuk berkhotbah tentang berbuat baik, berlindung dibalik jubah dan kopiah. Hanya berceramah di tempat-tempat suci. Cobalah terjun ke lembah-lembah dan berbicara di sana. Masalah yang terjadi sama sekali tidak akan selesai hanya dengan ceramah berjam-jam.

Aku kembali bernyanyi. Caraku menyampaikan segala sesuatu kepada sang pemilik rumah. Aku berusaha menyakinkan bahwa hidupnya ini berharga. Bahwa tetap ada orang baik yang bersedia bertamu, bahkan mungkin tinggal lama dan bersama di dalamnya. Memperbaiki rumahnya. Mempercantik halamannya. Berusaha meyakinkan sang perempuan yang setiap hari duduk di teras rumah itu bahwa akan selalu ada orang yang bisa menerimanya. Aku salah satunya.

Bagaimana aku tahu bila perempuan itu duduk di sana setiap hari? 

Itu rahasia. Meski setiap orang mengira rumah ini kosong. Aku mengerti. Pemiliknya bersembunyi di balik pagar tinggi ini.Mungkin matanya menatap kosong. Pikirannya jatuh terpelanting. Tangannya mencabik-cabik dirinya sendiri. Menyalahkan Tuhan juga mungkin, tidak percaya pada-Nya, karena Dia begitu tega membebankan semua ini kepadanya.

Setiap manusia gila kehormatan. Aku ingin membuatmu percaya bahwa tidak semua orang seperti itu. Aku salah satunya. Bilamana kamu akan membuka pagar rumahmu?

Aku kembali bernyanyi.

Bandung, 20 Juli 2014 | (c)kurniawangunadi

Buka dikasih durian daun manis kyak orang yang dikasih
*silahkanmuntah
terimakasih terimakasih :-D
Body feel so sleepy and sick when something goes wrong. *memorize 4 years ago
I wanna play with the rain so no one know that i was unhappy
Aak hari apa ini?? -.-
ga bsakah ga ngerusak trus..
Jika aku terlihat baik-baik saja, itu karena aku sudah terbiasa menutupi luka.

Sudah beberapa hari waktu dihabiskan di sini. Semoga allah memberi kekuatan untuk mengakhiri perkuliahan kami dengan sebaik-baiknya pengakhiran. Bersama kesulitan ada kemudahan,allah tidak akan menguji melebihi batas kemampuan hambanya, dan allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika bukan kaum tersebut sendiri yang hendak mengubahnya.
Keep fight, keep strong. Inget kedua ortu dirumah yang selalu mendoakan

Ya allah, pintaku berilah kekuatan dalam menghadapi semua kesulitan
Bertahanlah hingga sidang, pliss ;-(
*dearlaptop